A. PENDAHULUAN
Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu memenuhi dan mendukung kebutuhan setiap peserta didik. Setiap anak memiliki keunikan sebagai individu dengan karakteristik yang berbeda-beda satu dengan yang lain . Walau siswa bersekolah dan ditempatkan di kelas yang sama, perbedaan karakteristik di antara siswa tidak dapat dihindari, seperti perbedaan minat, gaya belajar, latar belakang, dan kemampuan siswa dalam memperoleh informasi mengenai mata pelajaran yang sedang diajarkan.
Di satu sisi tidak sedikit anak menjadi frustasi dan tidak termotivasi untuk belajar karena hanya datang ke sekolah untuk ulangan, dan ujian. Menurut Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah mengarahkan seluruh fitrah pada diri anak agar mencapai rasa aman dan bahagia yang setinggi-tingginya baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.
Keinginan kuat Ki Hadjar Dewantara kepada generasi bangsa ini menjadi pengingat betapa pentingnya bagi guru untuk memiliki mentalitas, moralitas dan spiritualitas yang cukup. Di kelas dimana peneliti mengajar, berupaya melaksanakan kegiatan sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran mencerminkan gagasan Ki Hajar Dewantara,yaitu menerapkan pembelajaran mandiri yang ditujukan untuk siswa melalui pendekatan pendidikan yang berpusat pada siswa, di mana guru berperan sebagai pamong yang membimbing, bukan mendikte. Pembelajaran dirancang agar siswa aktif mengeksplorasi, berpikir kritis, dan membangun pengetahuannya sendiri. Dengan pendekatan ini, siswa didorong untuk mengalami proses ngerti, ngroso, dan nglakoni — memahami secara intelektual, meresapi secara emosional, dan menerapkan dalam tindakan nyata.
Differentiated Learning adalah pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa. Guru memfasilitasi siswa sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda, siswa tidak dapat diperlakukan sama. Dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memikirkan langkah-langkah yang dapat diterima yang diterapkan nantinya, karena pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti belajar melalui perlakuan atau kegiatan yang berbeda untuk setiap siswa dan pembelajaran yang memisahkan siswa yang Cerdas dan kurang cerdas.
Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, tentunya ada beberapa tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. Meskipun demikian, guru perlu menjaga sikap positif agar tetap dapat mengimbangi tantangan tersebut. Beberapa cara untuk tetap bersikap positif di antaranya: (1) Terus belajar dan berbagi pengalaman dengan teman sejawat yang juga mengalami tantangan yang sama dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, sehingga dapat membentuk Learning Community; (2) Saling memberikan dukungan dan semangat dengan teman sejawat, agar dapat memotivasi dan memperkuat satu sama lain; (3) Menerapkan apa yang telah dipelajari dan dapat diaplikasikan, meskipun belum sepenuhnya sempurna atau maksimal.Terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap proses pembelajaran yang telah dijalankan, agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mencapai tujuan yang diharapkan
Hal yang harus dilakukan oleh guru untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dengan cara mengelompokan kebutuhan belajar siswa berdasarkan tiga aspek yang meliputi kemauan belajar, minat belajar dan profil belajar siswa, hal ini dapat dilakukan guru dengan cara melakukan wawancara, observasi atau survei, dll.
Perbedaan latar belakang, minat, dan gaya belajar siswa dalam kelas SMP merupakan hal yang wajar dan perlu diperhatikan oleh guru. Pembelajaran yang seragam dan tidak memperhatikan perbedaan ini dapat menyebabkan sebagian siswa merasa kesulitan dalam belajar, bahkan menjadi tidak tertarik. Pembelajaran berdiferensiasi muncul sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Dengan demikain, guru untuk merancang pembelajaran yang lebih relevan dan efektif bagi semua siswa. Dengan memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, guru dapat meningkatkan partisipasi siswa, pemahaman konsep, dan motivasi belajar, sehingga hasil belajar pun menjadi lebih optimal. Pembelajaran berdiferensiasi juga selaras dengan semangat kurikulum merdeka, yang menekankan pada pembelajaran yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Melalui modul ini, guru akan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang efektif, sehingga semua siswa dapat mencapai potensi maksimal mereka.
B. PENGERTIAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.
Melakukan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan. Lalu seperti apa sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi?
C. STRATEGI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Menurut Tomlinson (2000; 2001) terdapat 3 (tiga) komponen strategi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi, yaitu:
Konten merupakan isi dari pada materi pembelajaran itu sendiri. Dalam hal ini, seorang Guru harus kreatif dalam menyusun sebuah materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Misalnya Guru menyusun materi pembelajaran dengan menggunakan teks, video, audio visual atau gambar-gambar yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.
2. Diferensiasi Proses
Proses ini mengacu pada bagaimana kemampuan seorang guru dalam melaksakan proses pembelajaran dan memberikan petunjuk kepada peserta didik. Selama proses pembelajaran berlangsung, maka Guru juga perlu melakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran untuk mengetahui apakah peserta didik sudah belajar dengan maksimal sesuia dengan gaya belajar mereka masing-masing.
3. Diferensiasi Produk
Produk merupakan hasil belajar peserta didik yang wajib diketahui oleh seorang Guru setalah melakukan proses pembelajaran. Dalam hal ini, Guru perlu membuat serangkain tes yang berbeda-beda untuk mengatuhi sejauh mana peserta didik telah memahami materi yang dipelajari. Peserta didik dapat menunjukkan hasil belajarnya dalam bentuk video, teks, audio, maupun gambar sesuai dengan keinginan peserta didik itu sendiri.
Klik di sini untuk mengunduh:
Login To Leave Review