×
Krisis Relevansi: Menakar Ulang Fondasi Pendidikan di Era AI

Sebuah pernyataan menggelegar datang dari salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia teknologi. Dr. Fei-Fei Li — profesor Stanford, peletak fondasi revolusi deep learning lewat ImageNet, mantan Chief Scientist AI/ML Google Cloud, dan kini CEO World Labs yang bernilai lebih dari satu miliar dolar — berdiri di hadapan Fortune Most Powerful Women Summit dan berkata sesuatu yang bagi banyak orang terdengar seperti kekerasan intelektual: "Ketika saya mewawancarai software engineer, secara pribadi saya merasa gelar yang mereka miliki kini lebih sedikit relevansinya bagi kami."

Respons publik terbelah. Sebagian marah. Sebagian lega akhirnya ada yang berani berkata jujur. Namun hampir semua melewatkan satu hal yang jauh lebih penting: pernyataan Fei-Fei Li bukan hanya tentang perguruan tinggi. Bukan hanya tentang gelar sarjana atau master yang tergantung di dinding. Ini adalah diagnosis terhadap seluruh sistem pendidikan yang kita bangun selama seratus tahun terakhir — dari kelas satu sekolah dasar, ruang SMP yang pengap, laboratorium komputer SMK, hingga auditorium wisuda universitas. Semuanya, tanpa kecuali, sedang menghadapi krisis relevansi yang paling serius dalam sejarah modern. Dan dunia sudah tidak punya waktu untuk menunggu rapat komisi kurikulum yang berlangsung dua tahun.


Masalahnya Bukan di Puncak Gunung Es

Selama ini kita terlalu sering memandang krisis relevansi pendidikan sebagai masalah perguruan tinggi semata — kurikulum yang ketinggalan zaman, riset yang tidak menyentuh industri, atau lulusan yang bingung saat memasuki dunia kerja. Padahal, bila dicermati lebih dalam, masalah ini berakar jauh ke bawah, jauh sebelum seseorang menginjak bangku kuliah.

UNESCO dalam laporan monumentalnya, AI and the Future of Education: Disruptions, Dilemmas and Directions (2025), menegaskan bahwa AI berpotensi mentransformasi pendidikan di setiap jenjang. Namun laporan itu juga mengajukan pertanyaan yang lebih dalam dan lebih menggelisahkan: "Apakah AI sedang memperkuat pendidikan, atau justru menariknya menjauh dari tujuan intinya?"

Pertanyaan itu tidak retoris. Ia menohok. Sebab sistem pendidikan yang kita warisi — dengan model kelas satu guru berbicara, tiga puluh murid mencatat, ujian mengukur hafalan, dan nilai rapor sebagai proxy kompetensi — dirancang untuk mencetak tenaga kerja era industri, bukan navigator era kecerdasan buatan.


Di Ruang Kelas SD pun, Masalahnya Sudah Ada

Jauh sebelum seorang anak mengenal istilah "kurikulum kampus" atau "relevansi gelar", fondasi cara ia belajar sudah terbentuk sejak kelas satu sekolah dasar. Dan fondasi itulah yang kini paling berisiko.

OECD dan National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (NASEM) Amerika Serikat menyelenggarakan workshop khusus pada September 2024 untuk mengeksplorasi implikasi AI berperforma tinggi terhadap kurikulum sains dan rekayasa di sekolah — dari jenjang anak usia dini hingga pendidikan menengah. Pertanyaan inti yang mereka rumuskan adalah: dalam dunia yang dipenuhi AI canggih, apakah yang kita ajarkan di sekolah masih relevan?

Ini bukan pertanyaan spekulatif. Pada tahun ajaran 2024–2025, sebanyak 85% guru dan 86% siswa di Amerika Serikat sudah menggunakan AI dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari, menurut laporan Center for Democracy and Technology. Namun dari para guru yang menggunakannya, kurang dari sepertiga (29%) menyatakan bahwa pelatihan mereka mencakup panduan tentang cara menggunakan alat AI secara efektif, dan hanya 25% yang mendapat pembekalan tentang apa itu AI dan bagaimana cara kerjanya.

Artinya, AI sudah masuk ke ruang kelas dengan sangat cepat, tetapi sistem tidak mempersiapkan penggunanya — baik guru maupun murid — untuk menggunakannya secara bijak, kritis, dan produktif. Ini bukan adaptasi. Ini improvisasi kolektif yang berpotensi salah arah.

Laporan Pennsylvania Advisory Committee (2024) memperingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak terkontrol di sekolah berpotensi mengganggu hubungan emosional antara siswa dan guru, mengurangi perkembangan kemampuan berpikir kritis, memperkuat bias algoritmik, memperlebar kesenjangan digital, dan menimbulkan masalah privasi data anak-anak. Medium Inilah paradoks yang harus kita hadapi: alat yang berpotensi merevolusi pembelajaran justru dapat merusaknya jika diterapkan tanpa kerangka pedagogis yang matang.



Guru: Profesi yang Paling Terjepit di Tengah Badai

Bila ada satu kelompok yang paling menanggung beban dari krisis ini, itu adalah guru. Mereka diminta mengajarkan kompetensi abad ke-21 dengan kurikulum yang dirancang untuk abad ke-20, menggunakan metode pedagogis yang dipelajari di era sebelum AI generatif ada.

Sebuah tinjauan sistematis atas 43 studi empiris yang diterbitkan pada awal 2026 menemukan bahwa pelatihan teknis semata tidak cukup untuk mempersiapkan guru mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran. Keberhasilan integrasi AI di kelas membutuhkan kombinasi pengetahuan pedagogis, sikap positif, dukungan organisasional, dan pelatihan yang berkelanjutan — bukan sekadar workshop satu hari tentang cara menggunakan ChatGPT. Gemini, Pipit, dan AI sejenisnya.

Meski demikian, UNESCO mencatat bahwa sejak 2024, lembaga tersebut baru berhasil mendukung 58 negara dalam merancang atau memperbaiki kerangka kompetensi digital dan AI untuk pendidik dan pembuat kebijakan. Lima puluh delapan negara dari 195 negara anggota PBB — angka yang mencerminkan betapa jauhnya jarak antara kebutuhan dan respons sistemik yang ada.

UNESCO dalam AI Competency Framework for Teachers (2024) mengidentifikasi lima aspek kompetensi yang harus dikuasai guru: pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, fondasi dan aplikasi AI, desain pedagogi berbasis AI, dan tata kelola AI — semuanya bersifat saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kerangka ini ambisius dan visioner. Namun di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, kapasitas untuk mengimplementasikannya masih sangat terbatas.


The 5-Year Decay: Masalah yang Lebih Besar dari Soal Ijazah

Kembali ke pernyataan Fei-Fei Li dan data yang mendukungnya. Riset World Economic Forum dalam Future of Jobs Report menyebutkan bahwa 44% dari core skills karyawan akan terdisrupsi pada tahun 2027 akibat adopsi teknologi yang terus berakselerasi. Kurikulum perguruan tinggi — yang rata-rata membutuhkan tiga hingga tujuh tahun untuk direvisi secara menyeluruh — sudah tidak mampu lagi mengejar laju perubahan ini.

Tetapi inilah yang sering luput dari diskusi: masalah yang sama berlaku di setiap jenjang pendidikan, hanya dengan manifestasi yang berbeda. Di sekolah menengah kejuruan, kompetensi yang diajarkan dalam program tiga tahun berpotensi sudah berubah total saat siswa lulus. Di sekolah menengah atas, soal-soal ujian nasional masih mengukur kemampuan menghafal fakta yang dalam hitungan detik bisa dijawab oleh mesin pencari. Di sekolah dasar, anak-anak masih diajarkan untuk mencari satu jawaban benar, padahal dunia yang akan mereka masuki membutuhkan kemampuan merumuskan pertanyaan yang tepat — keterampilan yang justru menjadi pembeda terpenting di era AI generatif.

Laporan Microsoft dan LinkedIn (2024) menemukan bahwa 71% pemimpin perusahaan kini lebih memilih kandidat yang memiliki AI skills dibandingkan kandidat senior tanpa kemampuan AI. Ini adalah pergeseran paradigma rekrutmen yang memiliki implikasi langsung ke seluruh ekosistem pendidikan: jika titik akhir (pasar kerja) sudah bergerak begitu drastis, maka seluruh jalur yang menuju ke sana — dari SD, SMP, SMA, SMK, hingga perguruan tinggi — perlu ditinjau ulang secara mendasar.


Teori vs. Praktik: Jurang yang Bermula Jauh Sebelum Kuliah

Fei-Fei Li menekankan bahwa pendidikan formal terlalu sering terjebak pada fondasi teoretis sementara industri membutuhkan kemampuan implementasi yang real-time. Namun jurang antara teori dan praktik ini tidak tiba-tiba muncul di semester pertama kuliah. Ia terbentuk selama bertahun-tahun melalui sistem yang menghargai jawaban benar di atas kertas melebihi kemampuan memecahkan masalah nyata.

UNESCO menegaskan bahwa transformasi sejati memerlukan lebih dari sekadar konsultasi — ia membutuhkan ko-kreasi dan tanggung jawab bersama. Guru dan pelajar tidak seharusnya hanya beradaptasi terhadap perubahan, tetapi secara aktif membentuknya, memengaruhi bagaimana alat AI dirancang, dikelola, dan dievaluasi.

Ini adalah proposisi revolusioner. Ia membalik relasi kuasa yang selama ini berlaku dalam sistem pendidikan: bukan lagi regulator di atas yang menetapkan kurikulum lalu guru di bawah yang mengeksekusinya, melainkan sebuah ekosistem ko-kreasi di mana semua aktor — dari siswa SD, guru SMP, kepala sekolah SMK, hingga profesor universitas — terlibat aktif dalam membentuk makna belajar di era AI.



Empat Aktor, Satu Krisis

Krisis relevansi pendidikan di era AI bukanlah masalah satu institusi atau satu jenjang. Ia adalah masalah sistemik yang membutuhkan respons sistemik, dengan empat aktor utama yang harus bergerak secara simultan dan terkoordinasi.

Pemerintah dan Pembuat Kebijakan perlu melakukan reformasi kurikulum nasional yang bukan hanya menambahkan mata pelajaran "literasi digital" sebagai kosmetik, melainkan mengintegrasikan kompetensi AI secara lintas disiplin dan lintas jenjang. UNESCO telah mendorong negara-negara anggota untuk menjadikan integrasi AI dalam pendidikan bersifat human-centred, berkeadilan, aman, dan etis — dengan lima prioritas mendesak yang mencakup reformasi kurikulum, pelatihan guru, dan keamanan pelajar.

Institusi Pendidikan di semua jenjang perlu mengakselerasi siklus pembaruan kurikulum mereka secara drastis. AI tidak seharusnya hanya menjadi alat efisiensi; ia harus ditenun ke dalam pengalaman belajar yang membangun keterampilan yang relevan untuk masa depan. Namun sekolah juga harus memastikan akses yang adil terhadap alat AI bagi seluruh siswa, tanpa memandang latar belakang sosioekonomi mereka. 

Guru perlu mendapatkan dukungan sistematis untuk mengembangkan kompetensi AI mereka — bukan melalui pelatihan sporadis, melainkan melalui program pengembangan profesional yang berkelanjutan, terstandardisasi, dan terintegrasi dalam karier mereka. Penelitian menunjukkan secara konsisten bahwa kesenjangan terbesar dalam integrasi AI di sekolah bukan pada ketersediaan teknologinya, melainkan pada kesenjangan literasi AI guru itu sendiri.

Individu — Siswa, Mahasiswa, dan Profesional — perlu mulai memahami bahwa belajar bukan lagi aktivitas yang berakhir dengan wisuda. Di era di mana core skills berubah 44% dalam empat tahun, kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan membangun kompetensi baru bukan sekadar nilai tambah — itu adalah syarat kelangsungan hidup profesional.


Indonesia: Di Antara Potensi dan Ketertinggalan

Di tengah badai global ini, Indonesia berdiri pada persimpangan yang kritis. Dengan lebih dari 54 juta siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah, 4,5 juta mahasiswa aktif, dan lebih dari 3 juta guru di seluruh nusantara, skala potensi transformasinya luar biasa — begitu pula skala risikonya jika transformasi itu terlambat.

Beberapa inisiatif positif sudah mulai muncul. Lembaga-lembaga pendidikan sudah bergerak dengan model pembelajaran yang lebih inovatif berbasis kompetensi industri. Platform edukasi online lokal mulai mengintegrasikan keterampilan AI generatif dalam kurikulum mereka. Sejumlah universitas mulai membuka mata kuliah AI lintas jurusan.

Namun ini masih terlalu sedikit dan terlalu lambat untuk skala masalah yang ada. Ketika negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Finlandia sudah melakukan reformasi kurikulum berbasis AI secara nasional, Indonesia masih bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang infrastruktur digital di daerah 3T, akses internet yang belum merata, dan kesenjangan kualitas guru yang menganga lebar antara Jawa dan luar Jawa.

Inilah yang membuat pernyataan Fei-Fei Li menjadi sangat relevan sekaligus sangat berbahaya jika disalahpahami: jika kita hanya membacanya sebagai kritik terhadap ijazah perguruan tinggi, kita akan melewatkan krisis yang jauh lebih dalam di seluruh fondasi sistem pendidikan kita.


Simpulan: Pendidikan Tidak Sedang Gagal — Ia Sedang Ketinggalan Zaman

Ada perbedaan mendasar antara sistem yang gagal dan sistem yang ketinggalan zaman. Sistem pendidikan kita tidak gagal dalam mengerjakan apa yang dirancangnya untuk dikerjakan. Ia gagal dalam satu hal yang jauh lebih penting: gagal berevolusi cukup cepat untuk tetap relevan bagi dunia yang sedang berubah dengan kecepatan yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah manusia.

Seperti yang disuarakan UNESCO, guru harus diposisikan sebagai agen utama transformasi kurikulum dan penjaga etika AI, bukan sekadar penerima pasif dari perubahan teknologi yang dirancang di tempat lain. Anak-anak kita berhak mendapatkan pendidikan yang tidak hanya membekali mereka dengan pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga kemampuan untuk menavigasi, membentuk, dan jika perlu mempertanyakan masa depan yang dibentuk oleh kecerdasan buatan.

Ijazah bukan musuh. Sekolah bukan musuh. Guru bukan musuh. Musuh sesungguhnya adalah inersia — ketidakmauan atau ketidakmampuan untuk berubah saat perubahan itu sudah tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. Fei-Fei Li tidak sedang merobek ijazah generasi muda. Ia sedang memukul alarm yang sudah seharusnya berbunyi bertahun-tahun lalu. Pertanyaannya sekarang hanya satu: apakah kita akan segera bangun, atau masih memilih untuk tidur sebentar lagi?


Daftar Pustaka

Center for Democracy and Technology. (2025). Schools' embrace of AI connected to increased risks. CDT.

Li, F.-F. (2023). The worlds I see: Curiosity, exploration, and discovery at the dawn of AI. Macmillan Publishers.

Li, F.-F. (2025, December). As cited in Paoli, N. 'Godmother of AI' says degrees are less important in hiring than how quickly you can 'superpower yourself' with new tools. Fortune. https://fortune.com/2025/12/12/fei-fei-li-stanford-professor-godmother-ai-college-degrees-skills-talent-ceo/

Microsoft & LinkedIn. (2024). 2024 Work Trend Index: AI at work is here. Now comes the hard part. Microsoft Corporation. https://www.microsoft.com/en-us/worklab/work-trend-index

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2025). What should teachers teach and students learn in a world of powerful AI? OECD Education Spotlight No. 20. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/ca56c7d6-en

Pennsylvania Advisory Committee to the U.S. Commission on Civil Rights. (2024). The rising use of artificial intelligence in K-12 education. U.S. Commission on Civil Rights. https://www.usccr.gov/reports/2024/rising-use-artificial-intelligence-k-12-education

Tzafilkou, K., Economides, A. A., & Zygouris-Coe, V. (2025). Artificial intelligence in K-12 education: A systematic review of teachers' professional development needs for AI integration. Computers, 15(1), 49. https://doi.org/10.3390/computers15010049

UNESCO. (2024). AI competency framework for teachers. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000389948

UNESCO. (2024). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386693

UNESCO. (2025, September). AI and the future of education: Disruptions, dilemmas and directions. UNESCO Digital Learning Week 2025. https://www.unesco.org/en/digital-education/artificial-intelligence

World Economic Forum. (2023). The future of jobs report 2023. WEF. https://www3.weforum.org/docs/WEF_Future_of_Jobs_2023.pdf